FINAL
EXAMINATION
FOUNDATION
OF LITERATURE
1. PERIODE INGGRIS KUNO
1.1 Latar Belakang Sosial Masyarakat
Inggris Kuno
Periode inggris kuno (Old English) dalam sejarah dan sastra
inggris mengalami beberapa tahap perkembangan karena adanya penyerbuan atau
invasi dari suku-suku bangsa lainnya. Pada mulanya kepulauan britania hanya
dihuni oleh campuran dari berbagai rasa. Namun yang paling dominan adalah
bangsa Iberia yang berambut kehitam-hitaman. Orang orang Iberia tersebut
melampau tingkat peradaban, dari zaman batu hingga zaman logam, dari tingkat
kehidupan berburu sampai ke tingkat bercocok tanam secara menetap. Peninggalan-peninggalan
peradaban Iberia adalah maiden castle yaitu pemukiman berbenteng dan Stonehenge
yaitu batu-batu besar tempat pemujaan.
Pada abad ke-7 SM sampai ke-3 SM datanglah serbuan
dari bangsa Kelt yang semula merupakan bangsa pengembara. Semula mereka
mendiami Jerman barat laut dan Belanda, kemudian menjelajah ke segala penjuru
Eropa. Hubungan antara orang-orang Kelt dan orang-orang Iberia adalah hubungan
antara penjajah dan dijajah, tetapi kemudian budaya mereka bercampur.
Orang-orang Kelt hidup dari bercocok tanam, beternak, berburu, dan mencari
ikan. Mereka tinggal dalam perkampungan kecil yang disebut trevs. Orang-orang
Kelt menganut aliran Paganisme, mereka percaya adanya roh-roh yang mendiami
bukit-bukit, gua-gua, sumber air dan objek lainnya
Peninggalan-peninggalan Roma setelah berkuasa di Inggris antara lain Hadrian
wall, yaitu sebuah tembok pertahanan yang dibangun sepanjang perbatasan Inggris
utara pada tahun 12 Masehi, pembangunan jaringan jalan raya yang menghubungkan
system perbentengan yang masing-masing di jaga tentara regular yaitu pax
romana.
Pada permulaan abad ke-5 tentara roma ditarik seluruhnya dari inggris karena
keadaan di pusat pemerintahan Roma sudah merosot dan goyah. kemerosotan
tersebut dikarenakan oleh berbagai masalah ekonomi dan politik, dan juga
serangan-serangan dari suku germanik .
Orang-orang germanik yang terdiri dari suku Jute, Angle dan
Saxon lebih dikenal dengan nama suku Anglo-Saxon. Meskipun suku Anglo-Saxon
memiliki nama yang berbeda-beda, mereka mempunyai kebudayaan dan bahasa yang
hampir sama. Mereka menyembah dewa yang sama yaitu, Thor dan Woden. Mereka juga
memiliki sastra lisan yang sama yaitu Beowulf.
1.2.
Ciri Karya Sastra Inggris Kuno
Kesusasteraan Inggris Kuno atau Anglo-Saxon dapat dibagi
menjadi dua golongan yaitu Prosa dan Puisi.
PROSA
Karya-karya prosa Inggris kuno dipelopori oleh Aldhelm,
Bede, dan Alcuin. Karya mereka ditulis dalam bahasa latin dan diterjemahkan
kedalam bahasa inggris yang di pelopori oleh raja Alferd dengan tujuan untuk
memulihkan kebudayaan-kebudayaanbangsa Inggris yang hancur akibat serangan yang
bertubi-tubi oleh bangsa Skandinavia.
Aldhem (650-709) adalah seorang sarjana lulusan Canterbury. Disamping
menulis prosa, Aldhelm lebih banyak dikenal sebagai seorang penyair. Dalam
tulisannya, Aldhelm banyak menggunakan bahasa kiasan, seperti permajasan,
metaphor, alusi dan sebagainya.
Venerable bede (672-735), merupakan ahli teologi dan ahli sejarah Kristen di
jamannya. Pengatahuan dan minatnya yang beraneka ragam tercermin dalam karyanya
yang utama seperti sebuah risalat tentang mantra, ilmu pengetahuan kronologi
abad Kristen yang ditulis berdasarkan studi astronomi. Karya-karya Bede yang
paling menarik adalah kara sejarah dan biografi. Bukunya yang berjudul
Eccleastical history merupakan karya terbaik pada zamannya.
PUISI
Karya puisi lebih popular pada masa Inggris kuno karena
bentuknya lebih pendek dan dapat didendangkan. Disamping itu, puisi mudah
disebarluaskan dari mulut ke mulut. Salah satu karya puisi di periode inggris
kuno yaitu Beowulf. Karya ini memiliki 3000 baris dan termasuk jenis epik
rakyat. Beowulf mengalahkan makhluk Rawa bernama Grendel yang telah membuat
tidak aman negeri Raja Hrotgar. Bertahun-tahun kemudian, Beowulf sendiri terbunuh
dalam perjuangan menyelamatkan negerinya dari seekor ular naga bernafaskan api.
Struktur puisi Inggris kuno berbeda dengan puisi Inggris
modern. Pada umumnya puisi ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: unit
matra terdiri dari satu baris, setiap baris dibagi menjadi dua bagian, dua atau
tiga suku kata bertekankan pada setiap baris deimulai dengan bunyi konsonan
yang sama yaitu adanya aliterasi, sajak puisi Inggris kuno biasanya tidak
mempunyai ritma.
1.3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra
inggris Kuno
BEOWULF
Beowulf adalah sebuah sajak yang
terdiri atas 3000 baris dan termasuk jenis epik rakyat. Beowulf mengalahkan
seorang monster, penghuni rawa pantai yang bernama Grendel. Monster tersebut
telahmengacu istana Raja Hrothgar. Setelah Beowulf membunuh Grendel bersama
ibunya, dia diangkat menjadi raja selama 50 tahun. Kemudian Beowulf terbunuh
sewaktu bertempur melawan seekor naga api.
2.
PERIODE INGGRIS PERTENGAHAN
2.1 Latar Belakang Sosial Masyarakat
Inggris Periode Pertengahan
Pada masa kekuasaan Edward selama 20 tahun, tidak mengalami banyak kemajuan
dalam bidang kesusastraan. Kemunduran dimulai sejak penyerbuan orang-orang
Skandinavia. Peninggalan satu-satunya adalah pembangunan gereja-gereja, antara
lain gereja besar Westminter Abbey. Karena Edward tidak mempunyai keturunan
untuk menggantinya, dan disamping itu asas keturunan bukanlah sesuatu yang
mutlak dalam system monarki di Inggris, maka pemilihan raja ditentukan oleh
dewan yang disebut Witan. Kemudian dewan memilih Harold, putra Godwin, earl of
Wessex. Namun keputusan ini ditentang oleh Haral Hardrara, raja Norwegia dan
William, duke of Normandy yang masing- masing masih memiliki kekerabatan dengan
Edward dan mereka berhak atas tahta inggris
Pada akhir bulan September 106, pasukan raja Norwegia menyerbu inggris melalui
pantai utara, namun dapat dipukul mundur oleh pasukan Harold. Seminggu kemudia
serbuan datang dari serbuan William. Sejak saat itu ia menjadi Raja dan sejak
itu Anglo-Saxon banyak dipengaruhi oleh budaya normandia. Karena William
dibesarkan dan lama di Normandia, maka sewaktu berkuasa di Inggris, dia
merekrut banyak pejabat yang berasal dari orang- orang Normandia dan akibatnya
kebudayaan Normandia merasuk ke Inggris. Selama berkuasa di Inggris, William
menyita tanah milik orang Anglo-Saxon, dan ia pun menita tanah kaum bangsawan
beserta rakyat jelata. Dengan begitu semua tanah menjadi milik raja.
Banyaknya orang-orang Normandia yang mengganti pejabat di Inggris menimbulkan
kesenjangan antara kelompok yang berkuasa atau aristokrasi dan kelompok bawah.
Kesenjangan semakin dalam karena mereka menggunakan bahasa yang berbeda. Kaum
bangsawan menggunakan bahasa bahasa peracis dan kalangan bawah menggunakan bahasa
inggris Anglo-Saxon. Akibat dari penggunaan dua bahasa ini adalah bahasa
inggris mengalami perubahan dalam tata bahasanya dan menjadi lebih sederhana.
Salah satu peninggalan William 1 yang cukup penting dalam system administrasi
Negara di Inggris adalah Domesday Survay. System ini untuk mengetahui
fakta rinci mengenai seluruh kekayaan dan sumber kekayaan yang ada di inggris.
Sepeninggal William 1, William rufus, putra sulung , naik tahta yang kemudian
diganti oleh henry I, adik kandung William Rufus. Karena Henry I tidak mempunya
keturunan anak laki-laki. Tahta kerajaan diberikan kepada Stephen Deblois yang
kemudian direbut kembali oleh cucu Henry I., yaitu Henry II. Seiring pergantian
tahta raja di Inggris, terjadi peristiwa penting yang mempengaruhi perkembangan
masyarakat maupun budaya Inggris pada abad pertengahan. Peristiwa tersebut
antara lain, perang salib, lahirnya konstitusi inggris, parlemen, perang
seratus tahun dan lain-lain. Akibat Perang Seratus Tahun kesadaran nasional
meningkat dan bahasa Perancis terus mendesak akibanya pada abad ke-14 bahasa
Inggris kembali pulih menjadi bahasa satu-satunya diseluruh negeri dan di
segala lapisan masyarakat.
2.2 Ciri-ciri Sastra, Pengarang, dan
Karya Sastra Inggris Pertengahan
Bahasa perancis merupakan bahasa kaum kelas atas dan juga
bahasa resmi dalam pemerintahan. Bahasa Inggris diperkaya dengan ribuan
kata-kata bahasa perancis . sedangkan jenis karya sastra abad pertengahan yang
terkenal adalah “romance”. Ciri-ciri karya sastra perancis dan
Anglo-Norman antara lain bentuk sajaknya beraneka ragam, gaya ungkapan
bahasanya terang dan sederhana.
2.3 Kesusasteraan Inggris Pertengahan
PUISI
Karya puisi periode pertengahan sebagian besar terdiri dari
metrical romance yang ditulis dalam bentuk sajak tentan pahlawan perancis
(Roland), pahlawan Kelt (Arthur) dan pahlawan Inggris (Bevis O Hampton).
Metrical Romance adalah sebuah sajak naratif panjang tentang cinta dan
petualangan. Yang biasanya menjadi tokoh utama adalah ksatria yang menyelamatkan
wanita yang berada dalam kesulitan. Dalam petualangannya sang tokoh bertempur
dengan hewan buas, ular, raksasa, tukang sihir, dan lain-lain. Tema cerita
biasanya mencangkup tiga hal, yaitu cinta, agama dan kewajiban. Tetapi apapun
temanya selalu bersifat romantik dan bentuk mertical romancenya sangat popuer.
Chanson de Roland (the song of Roland) adalah salah seorang pengawal
Charlemage yang paling terkenal dan Charlemagne adalah seorang kaisar yang
berkuasa di negara barat pada sekitar tahun 80an. Chanson merupakan metrical
romance yang menceritakan tentang Roland seorang pahlawan umat kristiani ketika
bertempur dengan pasukan muslim yang menyerbu spanyol.
Geofrey Chaucer ialah seorang pejabat, ilmuwan, pengusaha , penyair dan
prajurit. Karya yang terbesar pada zamannya yatiu Canterbury Tales , suatu
kumpulan sajak naratif yang memberikan gambaran realistiK tentang kehidupan
orang inggris. Karier Chauster sebagai penyair dapat dibagi menjadi tiga
periode, yaitu: Periode pertama (1359-1372), dalam periode ini chaucer
banyak dipengaruhi oleh budaya perancis. Periode kedua (1392-1386),
dalam periode ini Chaucer dipengaruhi oleh budaya italia. Periode ketiga
(1386-1400), Chaucer berhasil membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh asing
dan menghasilkan karya-karya asli Inggris dalam bentuk maupun gaya.
PROSA
John Wyclif, adalah seorang guru besar Universitas Oxford dan seorang
tokoh gereja. Ia yang pertama kali melancarkan kritik terhadap otoritas gereja
Roma. Wyclif menolak doktrin-doktrin gereja dan juga mengecam birokrasi gereja.
Ia sering menerjemahkan kitab suci. Ia dikenal sebagai penerjemah kitab suci.
Karya prosa lainnya adalah The Historia Regum Britanniae karangan Geofrey
Mounmouth (1100-1154). Buku yang berisi sejarah raja-raja inggris ditulis
ke dalam bahasa Latin.
DRAMA
Drama semula tumbuh di dalam gereja sebagai medium
rokhaniawan untuk menjelaskan khotbah mereka, karena drama tersebut menggunakan
bahasa latin, maka diganti kedalam bahasa inggris. Pertunjukan-pertunjukanya
semakin berkembang dan dilangsungkan diluar lapangan gereja dan di jalan-jalan.
Lakon-lakon di ambil dari kitab suci. Misalnya, pada hari
Natal dipertunjukan lakon kelahiran Kristus. Pada zaman pertengahan terdapat
dua macam drama yaitu, Miracles yang melakonkan kehidupan orang-orang
suci dan Mysteries yang mengambil tema-temadari Kitab Injil.
2.4. Pengenalan Apreiasi Karya Sastra Periode Pertengahan
Robin Hood Three Squires
Robin Hood termasuk jenis balada rakyat. Balada adalah sebuah syair atau lagu
sederhana yang mengisahkan cerita rakyat Kuno yang disebarluaskan secara lisan
atau dari mulut ke mulut. Tokoh Robin Hood digambarkan sebagai seorang pemanah
ulung dan juga dikenal sebagai perampok budiman karena hasil rampokkannya
dibagikan kepada orang-orang miskin. Dia seorang pemimpin yang gagah berani dan
mendapat kepercayaan penuh dari para pengikutnya.
3.
PERIODE TRANSISI
3.1. Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris Periode
Transisi
Pada masa Transisi ini Henry VII naik tahta Inggris dan saat itu dia dihadapkan
pada berbagai masalah seperti perang saudara, keamanaan, kewibawaan raja dan
sebagainya. Pemerintahan Henry II membawa masa damai dan pemulihan. Perlu
diketahui bahwa periode Pertengahan manusia Eropa Barat masih berpikiran
sempit, segala aspek terjang masih dibatasi oleh tradisi-tradisi yang ditentukan
oleh gereja. Gerakan Renaissance lambat laun dapat mendobrak
peranata-pranata gereja. Gerakan Renaissance mengambil alih otoritas
gereja dan tradisi lama yang bersifat dogmatis. Ciri-ciri orang-orang Renaissance
antara lain individualistis, inovatif dan condong kepada sekularisme; suatu
pandnagan yang mementingkan masalah duniawi, bukan agama.
Selama mememrintah Henry VIII juga menbuat kebijaksanaan di bidang keagamaan
yang bersifat revolusioner dan bertujuan merombak (reform) sistem keagamaan
yang ada. Revolusi keagamaan semacam itu disebut juga “Reformasi”.
Pada tahun 1572 Henry VIII yang sudah menikah dengan Catherine of Aragon selama
15 tahun tidak mempunyai keturunan laki-laki, hanya anak perempuan yaitu Mary.
Kemudian Henry VIII bermaksud memperisteri seorang dayang istana, Anne Boleyn
tetapi tidak mendapat restu dari Paus karena Catherine janda dari kakak Hendry.
Menurut hukun gereja, Hendry tidak dibenarkan memperisteri janda kakaknya,
tetapi Paus memberi pengecualian kepadanya. Akhirnya pada tahun 1529, Henry
VIII memutuskan hubungan dengan Roma. Ia mulai sadar bahwa kepentingan Inggris
dapat dipermainkan oleh negara-negara lain melalui kekuasaan paus. Proses
pemutusan hubungan di bantu oleh parlemen.
Selama revolusi keagamaan itu berlangsung, parlemen memperoleh arti dan posisi
yang semakin penting karena sejak permulaan dewan itu diikutsertakan dalam
segala pengambilan keputusan.Meskipun masih di atur oleh para pejabat “Privy
Council”, setiap keputusan yang menyangkut seluruh bangsa dilakukan lewat
pensahan parlemen. Undang-undang yang terpenting adalah “Supermacy Act” yang
disahkan pada tahun 1534 yang secara resmi menyatakan kemerdekaan Gereja
Inggris dengan raja sebagai pemimpinnya tertinggi.
3.2.
Ciri Sastra, Para Pengarang, dan
Karya Sastra Inggris Periode Transisi
PUISI
Periode Transisi disebut juga periode imitative
karena banyak sajak yang ditulis meniru gaya Chaucer. Pengaruh Chaucer juga
merembet sampai ke penyair-penyair Skotlandia dan mereka sering disebut
“ScottishChaucerians”. Penyair-penyair tesebut antara lain Robert Henryson
(1430-1506). William Dunbar (1465-1530), dan Gavin Douglas (1474-1522).
Penyair-penyair Inggris yang dapat memberikan suasana baru
pada masa transisi adalah Sir Thomas Wyatt (1503-1542), seorang penyair
yang memperkenalkan bentuk soneta Itali kedalam khasanah kesusasteraan Inggris
dan Henry Howard, Earl of Surrey (1517-1547). Kedua penyair tersebut
memperkenalkan bentuk-bentuk sajak yang berbeda dengan penyair-penyair lainnya,
dan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan kesusasteraan Inggris.
Karena wyatt sering pergi keluar negeri, dia banyak
dipengaruhi oleh puisi-puisi Itali dan Latin. Sebagian besar sajak-sajaknya
berupa terjemahan dan imitasi, terutama soneta cinta (sajak yang terdiri dari
14 baris), dan puisi-puisi didaktik seperti satire (sindiran) dna epistle
(surat-surat). Soneta Cinta dalam bentuk aslinya merupakan karya sastra yang
mirip sebuah naratif tentang ksatria pada zaman pertengahan, yang isi ceritanya
Ksatria harus menunjukan kesetiaannya terhadap kekasihnya dengan cara bertarung
di medan laga.
DRAMA
Pada zaman Transisi, disamping drama-drama religius berkembang pula drama non
religiusatau drama sekuler yang biasanya dimainkan di alun-alun pasar dengan
menggunakan panggung ynag dapat dipindah-pindah (Stage on Wheels). Meskipun
dramanya bersifat sekuler, mereka masih berjiwa religius. Tema ceritanya
biasanya pertarungan antara Good (baik) dan Evil (jahat).
Pada perkembanga berikutnya unsur-unsur religiusdan didakdik semakin memudar,
dan jenis drama baru berkembang. Dalam jenis drama ini semua unsur seperti
struktur bentuk diutamakan. Tujuannya tidak lagi mengajar (didaktik) tetapi
dititikberatkan pada hiburan.
PROSA
Karya sastra pada zaman transisi tidak jauh berbeda dengan zaman pertengahan.
Karya terjemahan yang sangat berpengaruh di kalangan rakyat adalah terjemahan
Kitab Perjanjian Baru (1525) yang dilakukan oleh William Tyndale
(1484-1536).
Karya prosa dalam bentuk romance yang paling menonjol adalah karya Sir
Thomas Malory yang berjudul “Morte d’Arthur” (1470). Romance ini berkisah
tentang raja Artur serta satria-satrianya. Karya ini mempunyai peranana yang
sangat penting dalam perkembangan sastra Inggris selanjutnya karena menjadi
sumber bahan dan inspirasi bagi penyair-penyair kenamaan dikemudian hari
seperti Shakespeare dan tennyson.
4.
PERIODE ELIZABETH
4.1. Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris
Periode Elizabeth
Periode Elizabeth berlangsung pada tahun 1550 sampai dengan tahun 1620. Ratu
Elizabeth naik tahta setelah Mary meninggal menjelang akhir tahun 1558.
Elizabeth adalah ratu yang bijaksana. Ia berhasil memecahkan masalah-masalah
penting seperti keagamaan, perdamaian dengan Skotlandia, pengukuhan pemerintah
nasional, dan mencapai prestasi-prestasi seperti ekspansi perdagangan
internasional, kekuatan di lautan, dan kemenangan-kemenangan atas Armada
Spanyol.
Pada tahun 1559 parlemen mensahkan undang-undang yang isinya meniadakan
kekuasaan paus di Inggris, dan membentuk Gereja Anglikan dengan Monarki Inggris
sebagai pimpinan tertinggi dan Hierarki pejabat-pejabat Gereja yang bertanggung
jawab kepada Monarki. Book of Common Prayer sebagai satu-satunya penuntun
kebaktian yang sah.
Pada masa pemerintahan Elizabeth muncul tokoh kesusatraan yang dikenal di
seluruh dunia, yaitu William Shakespeare. Pada masa itu, ratusan karya sastra
yang ditulis oleh pujangga-pujangga Inggris selain Shakespeare juga bermunculan
dan dapat dikatakan kesusastraan Inggris mencapai zaman keemasan.
4.2.
Ciri Sastra, Para Pengarang, dan
Karya Sastra Inggris Periode Elizabeth
Meskipun Inggris mengalami kemajuan pesat pada masa
kekuasaan keluarga Tudor pada 12 tahun terakhir abad ke-16, mereka masih
tertinggal jauh dari Italia, Perancis, dan Spanyol dalam bidang kesusasteraan,
kesenian dan proses peradaban baru secara keseluruhan.
PUISI
Secara Umum karya sastra pada zaman Elizabeth bernada romantik, yaitu lebih
mengikuti suara hati, menggunakan bahasa yang segar dan masih dipengaruhi karya
sastra klasik dan Italia. Penyair pada periode ini adalah:
Edmund Spenser (1552-1599), ia di lahirkan di London pada tahun
1552. Spenser belajar di Merchant Taylor’s school, dan kemudian melanjutkan ke
Pembroke College, Cambridge dimana dia mendapat gelar magister pada tahun 1576.
Pada tahun 1678 dia menitih karier dengan mengabdi pada Earl of Leicester,
London. Karya Spenser yang paling terkenal adalah The Faerie Queene, sebuah
sajak alegori yang terkenal dan terpanjang dalam khasanah kesusteraan Inggris.
George Chapman (1559-1634), salah satu sastrawan terpandang
pada zamannya. Kemunculannya sebagai penyair agak terlambat dan karya
pertamanya adalah Ovid’s Banquet of Sense (1595). Dua karya
terjemahannya yang terkenal adalah The Iliad (1611), dan The Odyssesy
(1613).
Michael Drayton (1563-1631), Sebagian besar hidupnya menekuni sejarah
dan dia memperoleh aspirasi dari sejarah seperti yang ditunjukan pada sajaknya Ballad
of Agin Court dan Polly Olbion, sebuah sajak besar dalam bentuk Elexander
yang berisi gambaran geografis Inggris.
Thomas Sackville (1536-1608), ia dikenal dengan sajaknya yang
berjudul The Mirror of Magistrates yang menggambarkan kehidupan para penguasa
pada zaman itu.
PROSA
Prosa pada zaman Elizabeth mengalami perubahan. Tokoh-tokoh ceritanya bukan
lagi makhluk luar biasa seperti dalam romance tetapi hanya orang-orang biasa.
Gaya bahasanya agak di buat-buat, dan menggunakan kalimat-kalimat yang panjang.
Para novelis yang terkenal pada periode ini adalah:
John Lyly (1554-1606), dengan karya-karyanya Eupheus The Anatomy of Wit
(1579) dan Eupheus and His England (1580). Eupheus The antony of Wit merupakan
sebuah karya fiksi yang berkisah tentang cinta segitiga, yaitu dua sahabat
mencintai gadis yang sama. Karya ini mengandung ajarantentang tatakrama,
perasaan, dan moral.
Philip Sidney (1554-1586), ia lahir dari keluarga kaya di Inggris. Dia
belajar di Shrewbury School dan kemudian melanjutkan ke Oxford dan tinggal di
manca negara selama beberapa tahun. Karyanya yang paling terkenal adalah The
Arcadia (1590). Arcadia berbentuk patoral romance yang merupakan kumpulan
nyanyian dan soneta yang ditunjukan kepada Lady Penelope Devereux, dan Lady
Rich.
Thomas Nashe (1567-1600), adalah seorang jurnalis yang ahli menulis
dalam bentuk satir, karya-karya pampletnya banyakmenyindir kekuasaan gereja,
skandal-skandal masyarakat elit. Dia pertama kali memperkenalkan cerita yang
disebut Picaresque Chronicle yang berlawanan dengan pastoral romance.
Cerita Picaresque karya Thomas Nashe yang terkenal adalah The
Unfortunate Traveller, or The Life of Jack Wilton (1594).
DRAMA
Yang paling maju pesat pada periode Elizabeth adalah karya
drama. Karya dramatidak lagi semata-mata bertujuan mengajarkan agama dan moral,
tetapi jua bertujuan memperliahtkan kehidupan manusia. Penulis drama yang
terkenal antara lain:
Christoper Marlowe (1564-1593), ia adlaah seorang anak tukang
sepatu di Caterbury yang mendapat pendidikan di “The Town Grammar School” dan
di Cambridge. Karyanya The Tragic History of dr.Faustus bertema
pencagariankekuasaan melalui sains. Dalam drama ini dikisahkan Dr. Faustus,
seorang ilmuan yang haus ilmu, mengadakan perjanjian dengan setan,
Mephistopheles agar dapat menguasai segala macam ilmu dan kekuasaan. Setelah
dapat menikmati segala ilmu dan kekuasaan selama 24 tahun, jiwa Marlowe diseret
ke neraka oleh setan tersebut.
William Shakespeare (1564-1616), ia adalah seorang penyair dan
dramawan Inggris terbesar. Karier Shakespeare sebagain seorang dramawan dapat
dibagi menjadi 4 periode yaitu: Periode Eksperimen (1588-1596), periode
ini ditandai dengan sifat-sifat kemudaan. Periode Perkembangan (1596-1602),
pada masa ini Shakespeare sudah menunjukan kecermatan dan pengetahuan tentang
sifat-sifat yang mendalam tentang manusia. Periode Kemuraman dan Depresi
(1602-1608), pada masa ini Shakpeare sudah menunjukan kematangan jiwa dan
puncak perkembangan artistik. Periode Ketenangan (1608-1613), periode
ini mengakhiri masa produktif Shakpeare.
4.3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra
Periode Elizabeth
Macbeth
Macbeth merupakan salah satu drama tragedi terkenal karangan
William Shakespeare. Dalam drama ini Macbeth merupakan tokoh utama yang
berambisi untuk menjadi Raja setelah memenangkan peperangan. Karena dipengaruhi
oleh tukang sihir (Witches) dia mengambil jalan pintas dengan cara membunuh
raja Duncan. Tetapi akhirnya dia mengalami kekalahan akibat ambisinya yang
merupakan kelemahannya. Cerita ini ditulis berdasarkan sejarah yaitu, “Holinshed’s
Chronicles (1577)”.
5.
PERIODE PURITAN
5.1.
Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris Periode Puritan
Gerakan Puritan mulanya hanya merupakan gerakan keagamaan, tetapi karena
tekanan-tekanan dan tindakan-tindakan yang kurang bijaksana terhadap kaum
Puritan oleh James I dan Charles I, yang keduanya tidak disukai rakyatnya
karena depositisme mereka, maka gerakan Puritan berkembang menjadi gerakan
politik yang beroposisi terhadap raja. Situasi konflik mencapai puncaknya pada
Perang Saudara (1642-1646, 1648) dan akhirnya kaum Puritan menghukum mati
Charles I. Kemudaian kaum puritan mendirikan pemerintahan “Commonwealth” di
bawah pimpinan Oliver Cromwell.
Perteantangan antara kaum puritan dan kaum katolik masih dapat diredam berkat
kewibaawaan Ratu Elizabeth I yang bijaksana, tetapi pertentangan tersebut
muncul lagi pada awal pemerintahan James I. Teori yang digunakan James I di
Inggrisdisebut “Hak Illahi raja-raja” yang berartiTuhan memberikan hak istimewa
kepada raja yang tidak dapat diganggu gugat karena raja adalah wakil Tuhan di
bumi ini.
Keretakan pertama muncul ketika kaum Puritan meminta izin kepada raja untuk
melakukan praktik-praktik kebangkitan gereja dengan upacara sendiri dan lebih
menekannkan khotbah. Akibat penolakan secara langsung tersebut adalah pemecatan
beberapa ratus pendeta dari gereja Anglikan. Sejak saat itu dimulai gerakan non
konformis. Situasi konflik antara raja dan perlemen berlanjut sampai masa
pemerintahan Charles I (1625-1649), putera James I.
Konflik yang berkepanjangan antara kelompok Raja dan kelompok Puritan mencapai
puncaknya pada perang saudara (1642-1646, 1648). Pihak raja didukung oleh
sebagian besar bangsawan, orang-orang Anglikan, kaum katolik, dan kaum gentry
yang mahir menunggangi kuda. Sedangkan kaum Puritan didukung oleh sebagian
kecil kaum bangsawan dan sebagian besar golongan menengah.
Perang saudara yang berlangsung selama 4 tahun tidak hanya
melibatkan kelompok raja dan parlemen, tetapi juga kelompok lain yaitu
orang-orang Scotlandia dan New Model Army di bawah
pimpinan Oliver Cromwell, yang mendukung kelompok parlemen. New
Model Army akhirnya mengalahkan tentara royalitas di Naseby pada tahun 1645.
Menyerang raja tidak beratri persoalan selesai, karena
setelahitu muncullah keretakan antara kaum Parlemen, New Model Army, dan orang
Scotlandia yang masing-masing ingin lebih berkuasa. Perang saudara II
dimenangkan oleh New Model Army. Setelah Charles I di hukum mati, Oliver
mengangkat diri menjadi pimpinan bangsa Inggris dan Inggris diubah menjadi
suatu negara republik selama kurang lebih 11 tahun (1649-1660).
5.2.
Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang,
dan Karya Sastra Inggris Periode Puritan
Masa kekuasaan kaum Puritan menghasilkan sejumlah besar
karya sastra (Puisi dan Prosa), tetapi seni drama tidak dapat berkembang karena
dilarang oleh pihak penguasa. Drama dianggap sebagai sarang kemaksiatan oleh
penguasa puritan.
PUISI
Pada periode ini dikenal tiga jenis puisi yaitu, puisi metafisik, puisi
cavalier, dan puisi puritan.
1.
Puisi Metafisik
Puisi ini pertama kali digunakan oleh Dr. Samuel Johnson
(1709-1786), seorang sastrawan terkemuka abad ke-18. Puisi metafisik lebih
mengutamakan intelek daripada emosi, jadi dalam puisinya didapat banyak
istilah-istilah sains. Ciri-ciri metafisik yang berkembang pada abad 17 dan
akhir adalah: puisinya pendek selalu padat makna dan irit kata, penggunaan
imajinasi yang tidak lazim, penggunaan bahasa yang keras dan kasar, penggunaan
istilah sains dan tema berkisar tentang sifat manusia yang mendua fisik dan
spiritual. Penyair metafisik yang paling terkemuka adalah :
John Donne (1572-1631), sebagai penyair utama metafisik dilahirkan dalam tradisi
keluarga Katolik Roma yang kuat. Dalam menggambarkan gagasan-gagasan
dalam puisiny, John Donne tidak menggunakan perbandingan-perbandingan
konvensional, tetapi menggunakan fantastik dan hiperbola. Karyanya yang paling
menonjol adalah “The Sun Rising”.
2.
Penyair Cavalier atau Royalist
Para penyair Cavalier adalah pengikut setia Raja Charles I,
memiliki semangat jiwa yang berbeda dengan kelompok penyair metafisik.Mereka
mencintai kehidupan duniawi dan tidak begitu fanatik terhadap agama.
Penyair-penyair yang menonjol antara lain Robert Herrick
(1591-1674) dengan sajaknya To The Virgin to Make Much of Time, Thomas
Carew (1595-1639) dengan sajaknya To His Mistress in Absence, dan Richard
Levelace (1618-1658) dengan sajaknya To Althea from Prison.
3.
Penyair Puritan
Penyair Puritan yang menonjol adalah John Milton
(1608-1674). Disamping menjadi seorang penyair, ia juga menjabat sebagai
sekretaris urusan Luar Negeri Oliver Cromwell. Milton dibesarkan menurut
ajaran-ajaran Puritan dan sejak kecil sudah menyenangi musik, puisi dan
keindahan. Ia memiliki semangat Renaissance dan sangat taat beragama. Karya
Milton yang sangat terkenal adalah “Paradise Lost” sebuah sajak epik yang
terdiri dari 12 buku, ditulis dalam bentuk “blank verse”.
PROSA
Salah satu penulis prosa pada periode ini adalah, John Bunyan (1620-1688),
terkenal dengan karyanya yang bersifat alegoris, The Pilgrim’s Progress.
Karya tersebut merupakan karya alegori dunia. Buyan adalah seorang yang miskin
dan tidak berpendidikan. Dia tidak tahu sama sekali kebudayaan Renaissance dan
tidak mempunyai dasar kebudayaan Yunani dan Roma. Namun ia banyak terlibat
denga Reformasi di Inggris.
5.3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra
Inggris Periode Puritan
Paradise
Lost
Sajak “Paradise Lost” merupakan
sebuah epik dalam bentuk “blank verse” tentang pengusiran setan dari surga. Milton
adalah seorang penganut Puritan. Sajak ini berkisahan tentang setan, malaikat
pemberontak, yang diusir dari surga bersama pengikutnya. Di neraka, para
malaikat yang terusir tersebut membahas cara-cara untuk membalas dendam, dan
kemudian memutuskan untuk merusak Adam dan Eve, manusia pertama di dunia. Pada
saat itu Adam dan Eve sepenuhnya tidak berdosa dan hidup bahagia, tetapi Tuhan
telah melarang mereka memakan buah dari pohon pengetahuan tentang baik dan
buruk. Setan menipu Eve, danmembujuknya untuk memakan buah tersebut. Kemudian
Adam dengan rasa enggan mengikuti bujukan Eve untuk ikut makan. Tak lama
kemudian mereka merasa bersalah dan malu, kemudian mereka menjadi mortal dan
harus mati. Tuhan mengusir mereka dari Taman Firdaus ke bumi dan mereka harus
bekerja agar tetap hidup.
6.
PERIODE RESORTASI
6.1. Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris
Periode Resortasi
Setelah Oliver Cromwell meninggal, anak lelakinya, Richard
Cromwell, menggantikannya sebagai pimpinan negara republik Inggris, tetapi
karena Richard Cormwell tidak memiliki kecakapan seperti ayahnya, terjadilah
kekacauan di seluruh inggris. Untuk mengatasi kekacauan tersebut, jenderal
Monk, pimpinan tentara, menambil tindakan dengan merebut kekuasaan pemerintahan
tanpa pertumpahan darah. “Long Parliament”, hasil pemilihan tahun 1640,
dibubarkan dan dibentuklah parlemen baru melalui pemilihan bebas.
Pada tahun 1660 parlemen memanggil pulang charles II yang
selama itu berdiam di luar negeri (perancis) untuk menduduki tahta
kerajaan yang sudah lama kosong.
Pada 10 tahun pertama masa pemerintahan charles II Inggris mengalami masa
tenang karena ia membatasi kekuasaanya dan ada keseimbangan antara parlemen dan
raja. Tetapi keadaan tenang itu tidak berlanjut karena pada dasarnya charless
II adalah seorang pengagum Louis XIV dari perancis. Ia ingin agar model
pemerintahan perancis dengan raja absolut dan agama katoliknya dapat diterapkan
di Inggris.
Untuk mewujudkan keinginanya itu, charles II berusaha mengadu domba
kelompok-kelompok masyarakat tersebut antara lain: Kaum “squires” atau “gentry”
(tuan tanah), Kaum Anglika, Kaum pedagang dan produsen, Kaum pembelot, dan kaun
katolik.
Pada pemilihan parlemen pada tahun 166, kelompok tuan tanah
dan anglikan mendapat suara terbanyak dan mendapat julukan “Cavalier
Parliament. Charles II menyadari kenyataan ini, oleh karena itu ia mengubah
siasat dengan menangguhkan rencananya untuk memulihkan agama Kristen Katolik di
Inggris. Selanjutnya, ia berusaha mengambil hati parlemen dan mencari dukungan
dengan metengahkan “doktrin monarki” yang mengajarkan bahwa melawan raja
merupakan suatu pandangan yang dikaitkan dengan Anglikanisme.
6.2.
Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang,
dan Karya Sastra Inggris Periode Restorasi
PUISI
Bentuk puisi pada peride Restorasi yang paling menonjol
adalah “heroic couplet”, yaitu suatu bentuk puisi yang setiap barisnya berisi
lima tekanan keras pada setiap suku kedua (iambic penta meter), dan setiap dua
baris berirama satu sama lain. Tokoh terkenal pada periode ini adalah:
John Dryden (1631-1700), ia dikenal sebagai seorang dramawan, kritikus, dan
satiris. Sajak-sajaknya mencerminkan pergolakan politik dan pertentangan keagamaan
yang berlangsung sejak zaman Puritan, dan juga mencerminkan pendirian Dryden
yang berubah-ubah. Dalam keagamaan dia juga tidak konsisten, selalu
berpindah-pindah agama. Keunggulan Dryden adalah pada sajak-sajak jenis satire,
sajak politik , keagamaan , sajak-sajak cerita, dan beberapa drama tradegi yang
sering disebut “heroic tragedies” karena ditulis dalm bentuk heroic couplet.
Karya-karyanya antara lain The Conquest of Granada, The Indian Queen, and
Aureng Zebe.
DRAMA
Bentuk drama yang paling populer pada zaman Restorasi adalah
“Comedy of Manners”. Drama semacam ini biasanya mnggambarkanpergaulan,
percakapan, serta intrik-intrik dan berbagai “love affairs” dikalangan
masyarakat atas pada masa itu, yang bbas dari pertimbangan moral serta
unsur-unsur romantik, bahkan dikatakn cabul. Dramawan yang paling terkenal
adalah:
William Congreve (1670-1729), ia adalah seorang penullis drama
komedi terbesar pada periode Restorasi. Ia banyak dipengaruhi oleh Molliers,
sastrawa perancis dan seperti pengrang-pengarang linny ia menyindir sikap
masyarakat saat itu. Karya-karyanya adalah Love for Love dan The Way
of the World.
William Wycherly (1640-1716), ia menulis The Courty Wife, The
Plain Dealer, dan Love in a Wood.
PROSA
Periode ini ditandai penggunaan rasio, bukan imajinasi. Rasio sangat berperan
dalam perkembangan penulisan prosa. Oleh karena itu muncullah sejumlahkritikus,
sejarahwan, filosof, dan penulis-penulis religius pada masa itu. Dua filosofis
terbesar itu adalah:
Thomas Hobbes (1588-1679), ia adalah seorang naturalis yang menyatakan
bahwa ilmu alam harus menjadi fondasi semua pengetahuan manusia.
Gagasan-gagasannya diungkapkan dalam buku “The Leviathan”.
John Locke (1632-1704), ia mengatakan bahwa semua manusia dan
pemerintahan dibentuk untuk melindungi hak-hak tersebut. Teori-teorinya tentang
politik yang dituliskan dalam buku “Treatises on Goverment”.
6.3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra
Inggris Periode Resortasi
Absalon
and Achitopel
Dalam sajak ini Dryen menyindir intrik-intrik politik tentang isu suksesi raja
(Charles II). Ia mengambil cerita dari kitab injil yang mengisahkan
pemberontakan Absalom terhadap ayah kandungnya, Raja David II. Dryyen
menyerahkan Earl of Shaftesbury, yang menginginkan anak tidak sah raja Charles
II, James yang beragama Katolik. Pada baan pertama Dryen menggambarkan
sifat-sifat Earl of Shaftesbury palsu, yang dikutuk oleh setiap generasi karena
jahat. Pada bagian kedua, ia menggambarkan jenis orang yang mendukung Earl of
Shaftesbury.
7. PERIODE AGUSTUS
7.1. Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris
Periode Agustus
Revolusi Gemilang ( Glorious Revolution ) mengkhiri periode
Restorasi dengan kemenangan Parlemen Inggris atas Raja. Sejak saat itu
kekuasaan Parlemen Inggris yang mewakili kepentingan rakyat semakin berkembang.
Peristiwa ini memaksa James II melarikan diri ke Perancis. Tahta kerajaan
kemudian jatuh ke tangan William dan Mary. Tahun 1715 dan 1745 anak-anak James
II, James Francis Edward Stuart dan Charles Edward Stuart, berusaha merebut
kembali tahta kerajaan. Ketika William meninggal Anne Stuartlah yang
menggantikannya memegang tumpuk kerajaan.
Ratu Anne wafat tahun 1714 tanpa keturunan. Pihak Parlemen
Inggris sejak 1701 telah menetapkan bahwa pengganti Anne haruslah seorang
pemeluk agama Protestan. Setelah Anne wafat, penggantinya yang paling sesuai
adalah Pangeran George, anak Ratu Sophia dari Hannover German. Ratu Sophia
adalah cucu raja James I, George I, yang hanya bisa berbahasa German itu, naik
tahta pada usia 54 tahun.
George I tidak begitu memeperhatikan pemerintahan, demikian
juga anaknya George II yang memerintah Inggris pada Tahun 1727-1760. Pada Tahun
1707, terjadi penggabungan Inggris dengan Skotlandia dengan nama Great Britain.
Selama periode ini Inggris berkecimpung dalam berbagai perang di Eropa selain
dengan Perancis dan Indian Amerika. Periode ini adalah periode yang penuh
dengan kekacauan di bidang politik. Kaum Whig yang puritan menguasai
pemerintahan secara mutlak. Tokoh politik pada masa ini adalah Robert Walpole,
perdana menteri sejak Tahun 1721 hingga Tahun 1742. Walpole adalah seorang
politisi dari golongan Whig yang memiliki kemampuan yang besar meskipun
dianggap orang yang keras kepala dan kurang tegas.
Revolusi industri ( Industrial Revolution ) yang marak pada
akhir abad ke-18 membawa banyak pengaruh dalam kehidupan sosial/kemasyarakatan.
Salah satu akibat dari Revolusi Industri adalah menjamurnya barang-barang
cetakan. Industri pecetakan berkembang pesat dan barang-barang cetakan yang
mula-mula langka sekarang menjadi barang yang mudah dijumpai. Dmpak
negatif dari mudahnya mencetak karya sastra adalah tidak adanya kontrol atas
karya yang bermutu atau tidak sehingga masyarakat awam menjadi kebingungan
memilih karya sastra yang bermutu ditengah banjirnya barang cetakan ini.
Selain dampak negatif tersebut ada banyak dampak positif
yang bisa dirasakan masyarakat. Masyarakat dengan mudah dan murah dapat
memperoleh buku-buku yang berguna untuk menambah pengetahuan mereka. Ketersediaan
buku membuat budaya melek baca berkembang pesat. Selain itu maraknya usaha
penerbitan juga mendukung munculnya terbitan-terbitan berkala yang memberikan
informasi bagi masyarakat daerah tidak buta sama sekali terhadap
peristiwa-peristiwa yang terjadi di kota-kota besar.
Masa ini adalah masa keemasan di bidang industri dan
perdagangan. Secara perlahan muncul industri-industri kaya milik kelas
menengah. Biji kopi diperkenalkan di Inggris pada Tahun 1652 dan coffee houses
muncul di mana-mana.
Dalam bidang perdagangan dan ekspansi, sudah sejak abad
ketujuh belas para pionir Inggris mengarungi lautan Atlantik, mula-mula ke
sekitar Karibia untuk membuka perkebunan dan kemudian ke Amerika Utara
untuk menemukan lahan pertanian. Pemukiman-pemukiman di wilayah selatansaat itu
dianggap lebih penting, karena daerah-daerah tersebut banyak menghasilkan
hasil-hasil perkebunan seperti gula, kapas dan tembakau yang tidak dihasilkan
oleh negeri Inggris sendiri.
7.2 Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang, dan
Karya Sastra Inggris Periode Agustus
Periode sastra antara tahun 1700-1750 ini memiliki beberapa
nama. Secara umum periode ini sering disebut sebagai periode Agustus ( augustan
period ) yang mengacu pada kaisar Agustus dari romawi yang memerintah 27 SM-14
M dimana pada zaman itu kesusastraan khususnya puisi sudah dianggap mencapai
puncaknya dengan gaya yang dibuat-buat, bersifat politis dan satiris.
Diluar puisi, periode ini juga dikenal dengan nama-nama
lain. Periode ini disebut juga periode Neoklasik ( The Age of Neoclassicism )
karena menekankan pada keteraturan, logika, peredaman emosi, akurasi, denga
tujuan mencapai proporsi, kesatuan, harmoni, dan keanggunan dalam karya sastra
sehingga karya sastra tersebut mampu menimbulkan rasa senang, mengarahkan dan
mengoreksi tingkah laku manusia sebagai mahluk sosial.
PROSA
Prosa berkembang pesat pada periode Agustus ini yang diawali
dengan berkembangnya penerbitan berkala, misalnya surat kabar atau majalah.
Tahun 1702 muncul surat kabar pertama, Daily Courant, yang segera diikuti oleh
penerbitan berkala lainnya, kemudian The Tatler tahun 1709 dan The Spectator
tahun 1711. The Tatler memuat berita-berita politik, esai-esai ringan, dan
gosip-gosip yang banyak digunjingkan di klu-klub ataupun kedai-kedai kopi yang
saat itu mulai banyak bermunculan. Tokoh yang terkenal pada periode ini adalah:
Daniele Defoe ( 1661-1731 ), seorang pembangkang dari golongan
kelas menengah, adalah anak dari seorang pedagang eceran. Ia dianggap sebagai
pelopor karya fiksi realistis. Ia juga seorang pedagang, agen rahasia, seorang
wartawan, dan penulis pamflet yang sangat produktif. Satu hal yang penting dari
Defoe adalah arah dari novelnya. Ia telah menulis sejumlah prosa naratif
yang panjang yang lebih mirip sebuah picaresque: novel yang bercerita tentang
petualangan-petualangan.
Jonathan Swift ( 1667-1745 ) dikenal sebagai penulis prosa atire
dengan rasa humor yang tinggi. Sebagai seorang intelektual, ia menyukai
seseorang sebagai mahluk individu, tidak sebagai mahluk kolektif. Swift adalah
seorang yang sensitif, angkuh, pendendam, dan juga seorang yang selalu gusar.
Ia mendendam perasaan pahit terhadap nasibnya sendiri dan terhadap masyarakat
sekitarnya. Perasaan ini ditumpahkannya ke dalam karya-karyanya.
Samuel Johnson ( 1708-1784 ), penulis yang lebih dikenal dengan
sebutan Dr. Johnson ini selama bertahun-tahun merajai dunia sastra Inggris,
sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Diktator Sastra. Tentang kehidupannya
dapat kita simak pada biografi yang berjudul The Life of Johnson yang ditulis
oleh James Boswell ( 1740-1795 ) seorang pengikutnya yang setia.
PUISI
Penyair utama periode agustusan ini adalah Alexander Pope
(1688-1741). Alexander Pope adalah satu-satunya pengarang yang penting dari
generasinya yang benar-benar orang sastra. Pope mengembangkan bakatnya menulis
puisi. Sukses yang luar biasa pertama kali sebagaipenyair adalah ketika ia
menulis karyanya yang berjudul “Essay on Men” mendapat tanggapan positif.
Karyanya yang kemudian adalah “The Rape of the Lock” yang merupakan suatau “burlesque”
yang berkisar tentang kejadian atau soal remeh yang diperlakukan secara serius
tetapi efeknya sangat menggelikan.
DRAMA
Periode Agustus ini merupakan periode yang gersang dalam
karya sastra drama. Hanya dua penulis yang patut diketengahkan disini yaitu John
gay ( 1685-1732 ) yang menulis The Beggar of Opera terbit pada tahun
1728 dan merupakan drama satire terhadap opera-opera Italia, serta George
Lillo (1698-1739) dengan karyanya The LondonMerchant or the History of
George Barnwell yang terbit padatahun 1731 yang merupakan sebuah drama
sosial.
8. PERIODE PRE ROMANTIK
8.1 Latar belakang Sosial Masyarakat Inggris Peiode
Pre Romantik
Raja George II meninggal pada tahun1760, dan cucunya George
III menggantikannya sebagai raja Inggris. George III memerintah negeri ini
hingga 1820. Pada masa pemerintahan George III, banyak terjadi hal-hal yang
patut dicatat, misalnya timbulnya masa-masa transisi di bidang politik, sosial,
serta struktur ekonomi. Dibidang pemerintahan, Raja George III sangat tidak
setuju pemerintahan negara dilaksanakan oleh para menteri dan parlemen. Ia
berusaha memerintah negeri ini dengan cara kekeuasaan tradisional sebagaimna
dipraktekkan oleh dinasti Stuart. George III, sebagaimana raja-raja dari
Dinasti Stuart, berusaha mengontrol Parlemen. Dengan menggunakan kekuasaan uang
ia membel orang-orang untuk setia padanya dan mendirikan suatu partai sendiri
yang disebut “ King’s Friens “ atau para sahabat raja. Perlahan-lahan George
III mampu melemahkan kekuasaan Partai Whig di parlemen sehingga akhirnya ia
bisa menguasai parlemen.
Beberapa
tanda-tanda pudarnya paham neo-klasik dapat disebutkan sebagai berikut.
1.
Tumbuhnya ketidaksenangan terhadap
hasil-hasil serta tiruan –tiruan yang berbau klasik.
2.
Tidak peduli terhadap hal-hal yang
bersifat kuno, seperti terhadap Horace. Karyanya sudah tidak banyak lagi
diperbincangkan.
3.
Adanya kecenderungan membaca
karya-karya dari timur, seperti dongeng-dongengdari The Arabian Nights.
4.
Tumbuhnya perhatian terhadap
landscape Inggris.
5.
Adanya kecenderungan melupakan paham
klasik Perancis serta pemimpin-pemimpin klasik modern di Eropa.
6.
Adanya usaha untuk mencari ide-ide,
tema-tema serta gaya penyajiannya yang baru.
7.
Penulis neo-klasik memproduksi karya
sastra hanya untuk orang bangsawan dan terpelajar, sedangkan penulis baru
menulis untuk memnuhi tuntutan kaum borjuis baru.
8.2
Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang, dan Karya Sastra Inggris Periode
Pre-Romantik
Masyarakat Inggris yang sebelumnya masih menganggap karya
sastra neo-klasik adalah karya sastra utama, kini mulai beranggapan bahwa suatu
karya sastra tanpa perasaan adalah karya sastra yang gersang. Karya sastra pada
periode ini mulai diwarnai dengan emosi serta kritik terhadap norma-norma
klasik yang membelenggu kebebasan berkarya. Pemberontakan terhadap
kaidah-kaidah berkarya periode non-klasik ditandai dengan ditinggalkannya
bentuk “heroic couplet” dan dipakainya bentuk “blank verse” sebagaiman
karya-karya Shakespeare, Spencer, dan Milton.
PROSA
Bentuk yang pertama muncul adalah “Chronicle”. Bentuk ini
berupa laporan tentang peristiwa-peristiwa yang terfokus pada seseorang yang
menjadi tokoh utama. Bentuk keduanya adalah “Plotted Adventure Story”. Bentuk
ini sudah memiliki semacam plot yang merangkai petualangan-petualangan
mendebarkan yang dialami tokoh utama. Bentuk ketiga adalah “Romance” dengan
ciri khasnya berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat-tempat yang
terasa jauh dan asing.
Samuel Richardson (1689-1761) dianggap sebagai penulis novel
pertama dalam sejarah kesusastraan Inggris. Sebagai seorang yang sudah dikenal
kepribadiannya menulis surat, ia diminta oleh para penerbit untuk membuat buku
tuntutan membuat surat. Terbitlah buku yang berjudul Pamela or Virtue Reward
dan mengisahkan tentang seorang pramuwisma yang mendapat godaan dari tuannya.
Henry Fielding (1707-1754), Fielding lebih cenderung ke
tokoh-tokoh yang jenaka, kadang-kadang satiris dalam tulisannya. Ini dibuktikan
dalam tulisannya yang berjudul Joseph Andrews yang terbit pada Tahun 1742 yang
sesungguhnya adalah sindiran terhadap karya Richardson Pamela yang dianggapnya
penuh dengan sentimentalis palsu dan kebajikan-kebajikan kuno.
Tobias Smollet (1721-1771), Seorang Skotlandia yang berpraktik
sebagai dokter ahli bedah sepulangnya dari West Indies. Karya-karyanya berbau
petualangan sehingga menyerupai picarescue novel. Beberapa diantaranya adalah
“Roderick Random” dan “Peregrine Pickle”.
Laurence Sterne 91713-1768), adalah seorang humoris, humornya
berpijak pada suatu kejadian yang tidak diduga. Karya master piecenya adalah The
Life and Opinions of Tristram Shandy.
PUISI
Thomas Gray ( 1716-1800 ) mendapat pendidikan di Cambridge dalam tradisi klasik dan
kemudian menjadi guru besar pada Universitas yang sama. Gtema-tema
sajaknya adalah rasa simpati yang mendalam terhadap kehidupan rakyat pedesaan.
Sajaknya yang terkenal adalah “Elegy Written in a Country Churchyard.”
Robert Burns ( 1759-1796 ) adalah benar-benar seorang artis dan seorang romantik
sejati. Karya-karyanya antara lain adalah “To a Mountain Daisy”, “Toa
Mouse”, dan sebuah lgu yang menjadi lagu dunia “Auld Lang Syne”.
DRAMA
Oliver Goldsmith adalah seorang penulis yang miskin dan pernah ditahan oleh
pemilik tanah karena tidak membayar sewa. Ia adalah anggota kelompok Samuel
Johnson, dan dianggap sebagai penulis yang produktif. Karyanya yang paling
terkenal adalah The Good Nature man (1768)
Richard Brinsley sheridan (1751-1816) dididik di harrow School, belajar
hukum. Drama pertamanya, The Rivals, diproduksi di Covent Garden in 1775,
mengalami kegagalan pada pertunjukan malam pertama. Drama terkenalnya The
School for scandal (1777,) dinilai sebagai salah satu comedy of manners
terbaik dalam khasanah kesusastraan Inggris.
9.
PERIODE ROMANTIK
9.1.
Sejarah Latar Belakang Sosial
Masyarakat Inggris Periode Romantik
Pada awal revolusi, pendapat umum di Inggris cenderung bersimpati atas gerakan
itu. Bangsa Inggris meyamakan peristiwa besar pada tahun 1789 itu dengan
Revolusi gemilang tahun 1688 yang mengakhiri kekuatan raja yng absolut.
Disamping itu, para intelektual Inggris terutama seniman terangsang oleh
ide-ide yang terkandung dalam slogan liberte (kebebasan), egalite (persamaan),
fraternite (persaudaraan).
Pada tahun 1793 Inggris bersama beberapa negara-negara Eropa membentuk koalisi
dan memulai perang melawan perancis. Pemerintahan Inggris berada di tangan
orang yang berpandangan sempit. Kemudain kaum Whig mengusulkan undang-undang
Reform Bill (1832).
Sistem pembagian tanah adalah “sistem ladang terbuka” (open
field system). Dalam hal peningkatan produksi “ladang terbuka” ini kurang
menguntungkan, karena pemilik tanah maupun penyewa tidak leluasa mencoba metode
baru, karena takut gagal. Hal-hal tersebut diatas telah menyebabkan terjadinya
perubahan dalam sistem pembagian tanah. Pembagian tanah diatur oleh Lord
sedemikian rupa untuk menjaga kesuburantanhanya.
Sistem ladang tertutup merupakan perubahan penting di Inggris karena produksi
pertanian dan peternakan meningkat, walaupun tidak dipungkiri sistem tersebut
mengorbankan para petani kecil. Peningkatan produksi dan peternakan ini penting
mengingat pertumbuhan penduduk Inggris yang pesat.
9.2.
Ciri-ciri Sastra, Para Pengarang,
dan Karya Sastra Inggris Periode Romantik
Karya sastra priode Romantik
ditandai dengan ciri-ciri yang berangkat dari semoyan –semboyan “emotion is
more important than reason”, “nature is the the prime bringer of happiness”,
“nature is the best teacher of moral”, “a language of poetry should be language
of rural people”. Semboyan-semboyan tersebut berawal dari anggapan bahwa
karya sastra adalah ungkapan perasaan individu, jadi bersifat subjektif dan
lebih menekankan pada perasaan dibandingkan rasio.
Sekelompok penulis yang menentang slogan periode agustus mengasingkan diri dan
hidup di desa-desa. Mereka mencintai alam sedemikian rupa sehinggan timbul
anggapan dari mereka bahwa “tuhan ada di alam” (god resides in nature).
Anggapan ini lebih dikenal dengan istilah “panteisme”.
Titik pangkal munculnya aliran romantisme di Inggris ini sebenarnya berakaar
pada timbulnya revolusi perancis yang terkenal dengan semboyan liberty
(kebebasan), egality (persamaan), dan fraternity (persaudaraan).
PENGARANG
DAN KARYA-KARANYA
PUISI
Jenis karya sastra puisi berkembang subur pada periode ini.
Nama-nama penyair yang dapat diketengahkan adalah William Wordsworth,
Samuel Taylor Colleridge, Percey Bysshe Shelley, John Keats, dan Walter Scoot.
William Wordsworth (1750-1850), ia hidup disebuah distrik bernama Lake
District, di bagia barat laut Inggris. Kecintaan Wordsworth pada alam sedemikian
besar. Ia berpendapat bahwa alam dalam segala bentuknya memiliki jiwa yang
suci. Alam telah menjadi agamanya dan ia mendapat julukan “Nature’s High
Priest” (Iman Besar Alam). Karyanya yang paling terkenaal adalah “The
Prelude”, yang isinya menggambarkan kehidupan masa kanak-kanaknya di bukit
Cumberland.
Samuel Taylor Colleridge (1772-1834), artikel-artikelnya bersifat kritis
dan pembicaraanya yang cerdas membuat setiap orang terpana. ia adalah penyair
yang berwawasan sangat luas. Karya-karyanya adalah Ode on Destruction of
Bstille, Ode to France.
Sir Walter Scott (177-1832), adalah satu-satunya penulis prosa
yang patut diperhitungkan pada periode ini. Beberapa karyanya yang sangat
terkenal adalah “The Lady of The Last Minstrel” (1805), dan “The Lady
of The Lake” (1810) yang berbentuk puisi naratif historis.
Percey Bysshe Shelley (1792-1822), adalah satu-satunya anak seorang
tuan tanah yang menjadi anggota terhormat Parlemen Inggris. Pernikahan Shelley
kandas ketika ia bertemu dengan Mary Godwin dan pembaharu yang radikal
yaitu William Godwin. Karyanya yang paling terkenal adalah “Alastor or the
Spirit of Solitude”, yang mengisyaratkan kegelisahan jiwa romantiknya,
mengungkapkan kegagalannya dan mengejar cita-cita sekaligus harapan untuk hari
esok.
John Keats (1795-1821), ia sangat dikenal dengan ungkapan yang terdapat pada
sajaknya yang berjudul “Endymion” yang berbunyi: “A thing of
beauty is a joy forever: it’s loveliness increases: it will never pass into
noyhingness”.
PROSA
Tidak seperti karya sastra puisi, karya sastra prosa pada periode ini
berkembang sangat lamban. Yang menarik pada periode ini adalah munculnya karya
sastra non-fiksi seperti karya sastra sejarah, biografi, kritik dan sebagainya.
Beberapa tokoh yang dapat diketengahkan adalah Charles Lamb (1775-1834),
Thomas de Quincey (1785-1859), Walter Scott (1771-1832), dan Jane Austen
(1775-1817) seorang penulis novel wanita yang produktif.
DRAMA
Tidak demikian dengan halnya karya sastra drama yang ditulis
yang muncul kepermukaan. Drama megalami masa suram. Ini disebabkan golongan
menengah yang mendominasi masyarakat Inggris pada saat itu tidak begitu
meghargai karya sastra drama sebagai karya seni. Tokoh dramawan tidak diketahui
pada periode ini.
9.3.
Pengenalan Apresiasi Karya Sastra
Inggris Periode Romantik
“The Rime of the Ancient Mariner”
Karya Samuel T. Colleridge
Sajak ini dianggap sajak yang unik
dalam sejarah penulisan balada. Keunikannya terletak pada peristiwa-peristiwa
yang aneh pad aceritanya, hal yang bersifat magis dari dunia supernatural dan
gaya hidup yang kuno. Pad asjak ini dicertitakan seorang marnir tua berrtemu
dengan tiga orang yang gagah perkasa. Salah seorang dari mereka menghentikannya
dan mengajaknya pergi ke pesta perkawinan. Colleridge memberi glosarium pada
puisinya sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya.
10. PERIODE VICTORIA
10.1. Sejarah Latar Belakang Sosial Masyarakat Inggris
Periode Victoria
Periode ini dinamakan “Periode Victoria” karena pada waktu
itu bersamaan dengan bertahtanya Ratu Victoria (1837-1901). Masa itu adalah
masa damai dan selama masa itu berlangsung perubahan-perubahan sosial yang
penting, serta perkembangan ekonomi dan teknoligi yang pesat.
Perubahan-perubahan ini merupakan salah satu aspek yang disebut revolusi
industri. Yang dimaksud dengan revolusi industri adalah segala perubahan
radikal yang di akibatkan oleh penemuan-penemuan baru dalam teknologi industri
dan pengangkutan. Revolusi ini mengandung segi-segi positif dan negatif. Salah
satu masalah yang paling serius adalah perbedaan yang semakin mencolok antara
yang kaya dan yang miskin. Maka banyaklah gagasan yang diajukan untuk
memecahkan masalah ini. Sedangkan segi positif revolusi terlihat dengan
meningkatnya kemakmuran dan ilmu pengetahuan alam yang menemukan keajaiban
baru, misalnya tenaga listrik yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan manusia.
Hal yang menghebohkan adalah hasil penelitian Charles Darwin (1809-1882), yang
diterbitkan dengan judul “The Origin of species” (1859). Yang mengemukakan
teori evolusi biologis. Teori Darwin mengubah bnayak pandangan tentang segala
sesuatu di dunia ini, dan juga menimbulkna banyak pertentangan. Selain itu
kemajuan dalam bidang ilmiah dan pendididkan semakin maju dan meluas. Hal ini
menandakan semakin maju demokrasi dan ekonomi yang memerlukan tenaga-tenaga
terdidik dalam jumlah yang semakin besar.
10.2. Ciri-ciri Umum Kesusasteraan Pada Zaman Periode
Victoria
Ciri umum kesusasteraan Periode Victoria adalah prosa. Banyak sajak yang
bermutu yang dihasilkan Pada periode ini. Semakin meluasnya pendidikan umum
maka semakin besarlah jumlah pembaca terbitan-terbitan berkala seperti surat
kabar dan majalah yang isinya tentang berita, gagasan-gagasan, ulasan, dll.
Semakin majunya ilmu pengetahuan, maka semakin bertambah jumlah buku ilmiah
mengenai alam dan aspek kehidupan manusia. Ciri penting lainnya adalah bahwa
kesusteraan prosa dan puisi diabdikan menjadi suatu tujuan untuk meningkatkan
moral masyarakat. Jadi novel tidak saja menggambarkan hidup bagaimana adanya,
tetapi juga mengetengahkan bagaimana hidup itu seharusnya.
PROSA
Prosa lebih banyak dihasilkan dalam Periode Victoria. Selain itu prosa
dikatakan sebagai kesusteraan yang diabdikan kepada suatu tujuan. Maka
karya-karya novel yang dihasilkan dalam Periode Victoria umumnya disebut
“novel-novel masalah” (problem novels). Dan karena tujuannya untuk meningkatkan
moral masyarakat, maka novel ini disebut “novel-novel didakdik”. Tokoh novelis
yang terkenal pada periode ini adalah:
Charles Dickens (1812-1870)
Dicken
adalah novelis Inggris yang paling populer dan dikenal secara Internasional.
Masa kecilnya belangsung dalam suasana kemiskinan dan kesepian. Dicken memulai
karirnya sebagai seorang wartawan dan semua novel-novelnya diterbitkan secara
periodik terutama dalam dua majalah yang di editnya sendiri yaitu “The
Household Words” dan “All the Year Around”. Buku pertamanya adalah “Sketches by
Boz” (1836) yang merupakan kumpulan cerita pendek dan tulisan deskriptif dalam
bentuk essay.
William Makepeace Thackeray (1816-1833), ia mengenyam pendidikan Charterhouse
dan Cambridge University yg pada tahun 1930 ia meninggalkan bangku kuliahnya.
Kemudia tahun 1842, dia diundang untuk menjadi staf majalah Punc, yang ia
jadiakna sebagai medium untuk melatih keahliannya dalam bidang humor. Novelnya
yang sangat menarik adalah “The Book of Snops”.
George Eliot (1819-1880), ia adalah seorang putri makelar tanah tori. Secara khusus
ia menerapkan realisme dalam karya fiksinya dan mencoba untuk menghilangkan
Picturesque dan Burlesque dari karyanya. Karyanya yang paling terkenal adalah Adam
Bede (1859).
Elizabeth Gaskell (1865-1910), dia adalah seorang novelis dan
penulis geografi. Ia menulis lebih keras dan berani buku-buku yang bercerita
tentang orang-orang miskin di Inggris bagian utara, tetapi berakhir dengan
happy ending.
Charlotte Bronte (1816-1855), adalah novelis putri Patrick
bronte, seorang pendeta Yorkshire yang berdarah Irlandia. Pada tahun1846
Charlotte bersama adiknya Emily Bronte (1818-1848) dan Anne Bronte
(1820-1849) yang juga seorang novelis, menerbitkan sebuah kumpulan
puisi dengan nama pena Current Ellise dan Acton Bell, novel pertamanya adalah The
Professor.
Anthony Trollope (1815-1882), ia beranggapan bahwa menulis sebuah
novel merupakan sebuahkerajinan dan bisnis seperti halnya membuat sepatu.
Karyanya adalah The Warden (1855), Barchester Towers (1857), The Small House
at Allington (1864), The Last Chronicle of Barset (1867). Dalam novel-novel
tersebut ia menunjukkan nilai-nilai konservatif.
Samuel Bulter (1835-1902), Seorang satirist, penulis ilmiah, dan sebuah novel
auto-biografinya The Way of All Flesh (1963) menjadi model bagi sejumlah
penulis abad 20. Satir-satirnya Erewon dan Erewon Revisited merupakan anti
utopia.
Thomas Hardly (1880-1928), sebelum menjadi penyair dia adalah seorang arsitek. Dia
begitu dekat dengan kehidupan pedesaan yang menjadi asal-usulnya. Dia mengalami
kehilangan iman seperti halnya para intelektual inggris pada paruh kedua abad
19. Novelnya yang paling terkenal adalah The Trem Woman’s Tragedy.
Rudyard Kipling (1856-1936), Kipling sangat terkenal pada
periode ini karena karyanya mengungkapkan apa yang ingin diketahui oleh orang
Inggris pada masa itu. Karyanya yang dianggap berhasil adalah Captains
Courangeous (1897) dan Kim (1901).
Thomas Babington Macaulay (1800-1859), dia seorang sejarahwan, politis
dna penyair. Sikap politisnya tertuang dalam karyanya History of england
(1848). Sebagai sejarahwan ia merupakan penulis terbaik terhadap
rekontruksi impresionistik masa lalu.
John ruskin (1819-1900), ia adalah seorang penulis eni dan hubungannya dengan
masyarakat. Karyanya yang berkaitan dengan masyarakat dia menulis: The
Political Economy of Art (1857), The Two Paths (1859), dan Unto This Last
(1862).
PUISI
Ciri-ciri puisi pada zaman victoria umumnya ditandai oleh surutnya liris dan
spontanitas seperti yang terdapat pada zaman Romantisme, dan mengarah pada
penetapan standar-standar baik bentuk maupun isi. Sehingga menimbulkan
Puritanisme yang dikenal sebagai “Victorianism”. Masalah-masalah sosial, ilmiah
dan keagamaan menjadi subjek puisi. Segala unsur ekspresi diperhatikan secara
cermat sehingga memperoleh kemajuan dalam teknik penulisan puisi. Tokoh puisi
yang terkenal dalam periode ini adalah:
Alferd
Lord Tennyson (1809-1892)
Tennyson adalah seorang penyair yang paling terkenal sepanjang periode itu. Dia
anak keempat dari 12 bersaudara. Salah satu lirik Tennyson adalah “The
Princess” pada tahun 1847 yang ditulis dalam “Blank Verse”, dan menyinggung
suatu masalah yang sedang hangat pada waktu itu, yaitu Emansipasi Wanita.
Robert Browning (1812-1889), ia adalah seorang penyair, anak seorang
juru tulis pada Bank of England. Ia menikah dengan seorang penyair yang bernama
Elizabeth Barret Browning pada tahun 1861. Karyanya yang paling terkenal adalah
Paulin (1833).
Elizabeth Barret Browning (1806-1861), ia memiliki reputasi sebagai
penyair victorian jauh sebelum daia bertemu dengan Robert Browning. Karyanya
yang terkenal adalah The Seraphim and Other Poem (1838) dan Poems (1844).
Metthew Arnold (1822-1888), ia adalah seorang penyair,
kritikus, dan pendidik. Puisinya yang terkenal adalah The forsaken
(1849), Sohrab and Rustum (1853), and Dover Beach (1867) puisinya
bersifat elegi, mediatif dan melankolis. Penuh dengan rasa keterasingan
spiritual dan kehilangan kepercayaan religius.
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882), ia adalah seorang penyair dan
pelukis. Pada awalnya ia dikenal sebagai seorang pelukis. Namun pada akhirnya
dia menulis puisi yang berjudul The Blessed Damozel (1850), yang
membuatnya menjadi terkenal.
Christina Rossetti (1830-1894), adik dari Dante Rossetti ini adalah
seorang penyair ini sangat subjektif dan mengidolakan penyair spiritual abad
17, yaitu John George Herbert. Karya puisinya yang sangat terkenal adalah Goblin
Market and other Poems (1862).
William Morris (1834-1896), ia adalah seorang penyair dan filosuf
sosialisme, desainer, dan pelukis. Tujuannya adalahmenyerang dampak industrial
dari Inggris Victorian. Karyanya yang paling terkenal adalah Devence of
Guinevere (1858).
Algernoon Charles Swinburne (1837-1909), ia adalah seorang penyair dan kritikus yang berasal dari
kalangan aristokrat. Gaya puisinya berbeda dan memperoleh simpati dari kalangan
luas. Karyanya yang paling terkenal adalah The Queen Mother and Rosamond
(1860).
DRAMA
Karya sastra drama pada Periode Victoria mengalami sedikit perubahan karena
kurangnya penghargaan dari masyarakat Victoria. Dalam tahun 1860-an terjadi
sedikit perubahan, karena Ratu Victoria sedikit berminat pada cabang sseni.
Penulis drama yang populer pada waktu itu adalah:
Thomas William Robertson (1829-1871), ia dikenal sebagai pembaharu drama
yang relevan terhadapkehidupan sosial kontemporer ketika pada waktu itu drama
mendapatkan perhatian yang sangat kecil. Karyanya yang paling terkenal adalah “Caste”
(1867).
Oscar Wilde (1854-1900) adalah seorang dramawan, penyair
dan novelis. Karya Robertson tidak seberapa jika dibandingkan dengan Oscar
Wilde dengan popularitas komedi-komedi Oscar yang masih berlangsung hingga
sekarang. Komedi-komedinya penuh dengan cerita jenaka. Karyanya yang paling
terkenal adalah “Lady Windermere’s Fan” (1892).
11. PERIODE
MODERN DI INGGRIS (MODERN ENGLISH)
11.1. Latar Belakang Sosial
Masyarakat Inggris Periode Modern
Kemajuan pesat yang mencapai bidang
teknologi dan ilmu di zaman modern ini membawa manusia pada suatu kehidupan yang
serba kecukupan di bidang pangan khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara. Akan
tetapi periode ini dianggap sebagai periode kehancuran dan kesengaraan sebagai
akibat timbulnya dua perang dunia (I dan II), bahkan ancaman perangg dunia III
masih ada. Dua perang dunia tersebut telah menyebabkan ⅔ penduduk dunia
terancam kelaparan.
Yang benar-benar milik abad ke-20
adalah hal-hal yang berkaitan dengan atom, elekron, proton, galaksi serta
bintang. Teori reatvitas serta para ahli nuklir serta gagasan-gagasan abstrak
lainnya menjauhkan manusia dari hakikatnya.
11.2. Tatanan Sosial Politik Inggris
Periode
Modern
Beberapa hal yang penting yang
terjadi pada periode ini adalah bahwa inggris telah kehilangan kekuasaanya yang
dominan seperti yang dimilikinya pada periode sebelumya. Inggris berada
di posisi ke-3 setelah rusia dan Amerika. Masalah berikutnya adalah inggris
harus menghadapi dua perang yang dahsyat yang menyebabkannya banyak kehilangan
dana dan daya, pemuda serta kekayaannya, khususnya selama perang dunia ke-2
(1939-1945).
Dalam paruh abad ini terjadi
perubahan dalam tatanan kewarganegaraan. “British Empire” berubah menjadi “
British Commonwealth “. Perubahan ini bukanlah sekedar perubahan nama,
Irlandia, kecuali Ulser, menyatakan kemerdekaanya sebagai negara Republik
Irlandia pada tahun 1921.
11.3. Ciri-ciri Sastra, Para
Pengarang, dan Karya Sastra Inggri Periode Modern
PROSA
Tidak sebagaimana abad ke-19, bentuk
prosa mendapat tempat terhormat pada periode modern ini. Beberapa penulis mulai
mempelajari teknik penulisan serta bahan cerita. Terdapat tiga macam teknik
yaitu, teknik “sura”t (epistolary technique), teknik “otobiografi”
(autobiography technique) serta teknik “mata tuhan” (old eyes).
Tokoh yang terkenal pada periode ini adalah:
Joseph Conrad (1857-1924), ia kelahiran Polandia yang telah
menjadi warga Negara Inggris. Dia seorang pelaut yang telah melanglang buana
selama 19 tahun ke berbagai pelabuhan dan negara-negara Asia, fasifik dan benua
amerika. Novel Conrad biasanya bersifat petualangan. Salah satu karyanya yang
terkenal adalah Of human Bondag (1915), dia bercerita tentang pindahnya
seorang mahasiswa kedokteran yang masih muda seperti dirinya sendiri.
Herbert George Well (1866-1946), ia suka sekali menampilkan
peristiwa fantastis yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Sebuah
karya fantastisnya adalah The Time Machine (1955) yang menceritakan manusia
yang dapat dipindahkan ke masa lampau atau masa depan dengan seketika oleh mesin
waktu.
John Galsworthy (1867-1933), seorang novelis dramawan yang
menyoroti kehidupan kelas atas Inggris. Novelnya yang paling terkenal adalah
Forsyte Saga (1906-1921).
James Joyce (1882-1941), orang Irlandia yang menerbitkan sebuah edisi pendek, Dubliners
(1914). Penemuannya itu menghasilkan varian moderndari Odyssey, yang
menceritakanpetualangan selama sehari seorang pengusaha kecil bangsa Yahudi.
PUISI
Puisi pada periode ini tidak berada di tempat teratas dari khasanah kesusteraan
Inggris. Para penyair periode ini dapat terbagi dalam dua golongan, ialah
mereka yang yang tidak begitu menyimpang dari standar-standar abad sebelumnya,
dan mereka yang sengaja memberontak terhadap standar-standar itu.
Tokoh-tokohnya adalah :
Alferd Edward Housman (1859-1936), ia adalah seorang penyair yang
kualitas puisinya paling tinggi. Ia berhasil menerbitkan A Shropshire (1896)
yang terdiri dari 63 lirik yang menceritakan tentang meditasi seorang pemuda.
William Bulter Yeats (1865-1939), dia adalah seorang senator pendiri
teater nasional Irlandia. Pada tahun 1923 ia menerima hadiah nobel untuk
kesusteraan karena “puisi emisionalnya yang konsisten, dalam bentuk artistik
yang paling kaku, dan mencerminkan semangat manusia”.
Thomas Stearns Eliot (T.S Eliot), dia berasal dari St. Louis, dia
memperoleh sarjan Rhodes di Oxport. Dia menulis puisi yang rapuh dan keras.
Salah satu karyanya adalah Ash Wednesday (1930), menunjukan perubahan Eliot.
Eliot dianggap sebagai penyair yang paling terkenal, salah satu yang aling
controversial, dan mungkin yang paling berpengaruh di abad ke-20.
DRAMA
Pada periode ini drama mengalami
perkembangan yang sangat pesat, mulai tampak kembali kehidupan dan kegairahan
dalam penulisan drama. Satu-satunya dramawan pada masa ini adalah :
George Bernard Shaw (1856-1950), kelahiran Irlandia, namun sejak
usia muda telah menetap di london. Kariernya pun sebagai dramawan adalah yang
terpanjang dalam sejarah drama Inggris. Salah satu karyanya adalah Pygmalion
(1912). Judul cerita ini diambil dari sebuah mitos yunani yang mengisahkan
seorang pemahat yang bernama pygmalion yang memahat seorang wanita dan kemudian
dia jatuh cinta pada pahatannya tersebut, kemudian dewa Aphrodite yang mirip
dengan pahatanya tersebut menjadikanya benar-benar hidup seperti manusia
layaknya. Disamping Shaw ada beberapa penulis drama lainnya, seperti John
Galsworthy. Beberapa karyanya adalah The Silver Box (1960), Joy (1907),
The Pigeon (1912), dan The Forstyle Saga (1967). Disamping Galsworthy, penulis
drama liris yaitu W.H Auden (1907), Christoper Isherwood (1904), dan William
Somerset Maugham.
11.4. Pengenalan Apresiasi Karya
Sastra Inggris Periode Modern
The Lagoon Karya Joseph Conrad
The Lagoon mengisahkan tentang
kematian istri Arsat, seorang laki-laki Melayu serta peristiwa yang
mengakibatkan kematian tersebut. Konflik-konflik yang dihadapi Arsat dan
kegagalan Arsat dalam menemukan kedamaian.
12. PERIODE
MODERN DI AMERIKA
12.1. Latar Belakang Sosial
Masyarakat Amerika Periode Modern
Modernisme di Amerika
Pada tahun 1913, goncangan awal modernisme mencapai Amerika dalam bentuk
pertunjukkan Armori yang dipentaskan di New York City. Pameran seni tersebut
dipenuhi oleh seni lukis abstrak dari para seniman Eropa dan
Amerika yang kurang terkenal.
Modernisme dan Diri
Salah satu kesepakatan tentang modernisme adalah sebuah gerakan budaya atau
sebuah gaya suatu periode yang dominan dalam kesenian secara internasioanl
antara tahun-tahun pertama abad 20, dan akhir perang dunia kedua. Modernisme
berujung pada kepercayaan bahwa seniman kurang dihargai tetapi lebih sensitif
dan bahkan lebih daripada rakyat biasa.
Terdapat hubungan yang rumit antara
gerakan modernisme dengan harlem Renaissance (Kelahiran kembali Harlem). Pada
periode setelah perang dunia 1 sampai masa depresi banyak karya sastra baik
dalam bentuk puisi, prosa, drama dan esai dihasilkan oleh sekelompok penulis
Afrika-Amerika yang berbakat.
Modernisme dan Daerah Selatan
Beberapa gerakan kesadaran diri
modern seperti gerakan Fugitive Agrarian dari tahun 1920-1930 di daerah
selatan memuculkan semacam kontradiksi dalam modernisme menjadi sebuah mesin
kreativitas. Dengan demikian istilah modernism telah menjadi istilah yang lebih
luas seperti halnya istilah classicism dan romanticism.
Modernisme dan Gerakan Negro Baru
Terdapat hubungan yang rumit antara
gerakan modernisme dengan Harlem renaissance. Pada periode setelah perang dunia
I sampai masa depresi banyak karya sastra baik dalam puisi, prosa, dan drama
dihasilkan oleh sekelompok penulis Afrika-Amerika yang berbakat.
12.2. Ciri-ciri Sastra, Para
Pengarang, dan Karya Sastra Amerika Periode Modern
Sastrawan Amerika dan Karya-karyanya
Beberapa hasil kesustraan Amerika adalah karya-karya penulis realisme Amerika
yang sadar terhadap kondii masyarakat pada saat itu. Karya-karya mereka
merupakan titik awal dari prosa transatlantik; yang pertama adalah karya sastra
yang bersifat propaganda.
PROSA
William Faulker (1897-1962), ia menderita cacat karena
kecelakaan pesawat terbang, Faulker adalah anggota dari “Lost Generation”.
Novelnya yang paling penting adalah Light in August (1932).
Sinclair Lewis (1885-1951), dalam Main Street (1920)
yang berisi mengejek pembatasan yang sifatnya melemahkan kehidupan kota kecil
di Amerika, sedangkan Babbitt (1922), ia mengungkapkan keinginan warga
biasa dan orang kecil di jalan.
Ernest Hemingway (1899-1961), ia menjadi wartawan keliling untuk
menyelidiki perang Sipil di Spanyol. Ia menulis tentang perang, perburuan dan
aktivitas maskulin lain dalam gaya yang jelas.
Langston Hughes (1902-1967), adalah salah seorang sastrawan
berbakat dari kelompok gerakan “Harlem Renaissance” pada tahun 1920-an, dan
merupakan penulis kulit hitam abad ke-20 yang paling orisinal. Tahap yang
paling penting dalam kehidupannya sebagai penulis adalah penemuannya tentang
New York, Harlem dan tentang kehidupan budaya dan lingkaran sastrawan “New
Negro”. Karya-karyanya adalah The Weary Blues (1925) dan Not Without
Laughter (1930).
PUISI
Revolusi puisi terjadi pada tahun
1912 ketika majalah yang berjudul Poetry terbit di chicago. Tiga penyair
Midwest yang tumbuh di Illinois bersama orang biasa adalah :
Carl Sandburg (1878-1967), karirnya sebagai penyair diawali
dengan In reckless Ectasy (1904) yang diterbitkan secara pribadi.
Edgar Lee Masters (1868-1950), menulis Spoon River Anthology
(1915) dengan gaya baru sehari-hari yang tidak puitis menyajikan secara lugas
tentang seks, tinjauan kritis tentang kehidupan pedesaan, serta kehidupan jiwa
orang-orang biasa.
Ezra Pound (1885-1972), dia memulai hidup kreatifnya
sebagai orang yang senang membayangkan dan percaya bahwa emosi sebaiknya
diekspresikan dalam puisi yang pendek tetapi tepat dengan kesan nyata sebagai
pusatnya. Karya-karyanya adalah A Lume Spento (1908), Personae
(1909) , Provenca (1910), Canzoni (1911), Lustra (1916)
dan Quia Pauper Amavi (1919).
DRAMA
Eugene O’Neill (1888-1953), seorang penulis yang menggunakan
beberapa gaya yang berbeda. Dia bisaa menyusun lakonnya berdasarkan fakta yang
brutal; bahan drama pertamanya diambil dari pengalamannya sebagai pelaut, dan
tekniknya adalah realistik murni, seperti dalam Desire under the Elms
(1924). Karyanya yang paling penting adalah Long Day’s Journey into Nigh
(1956) menggambarkan rusaknya sebuah keluarga karena penyakit dan kecanduan
obat.
Maxwell Anderson (1888-1959), mengatakan karena drama tidak lebih
dari penyesuaian dari realita, dai ingin mencoba dengan verse drama. Pertama ia
mencobamenulis puisi pada subjek sejarah yaitu, Elizabeth the Queen (1930) dan
Marry Scotland (1933).
Tennesse Williams (1911-1983), seorang dramawan yang berbakat. Ia
memproduksi The Glass Menagerie (1947) gambar yang menyedihkan tentang seorang
wanita kaya yang leamh hidup dalam dunia mimpi yang vulgar.
Arthur Miller (1951), selama musim semi tahun 1936 menulis drama No
Villain yang memenangi hadiah Hopwood sebesar $250.
Edward Albee, lahir pada tanggal 12 Maret 1928 di Washington DC. Albe
mulai terkenal pada tahun 1960-an dengan sederet drama satu babak, yaitu: The
Death of Bessies Smith (1960), The Sandbox (1960), dan The American Dream
(1961). The Sandbox mempertunjukan absurditas seapasang suami istri yang
memasukan neneknya kedalam sebuah peti pasir.