Kicauan burung dengan suara merdu sambil menari menikmati pagi, seakan
sedang bernostalgia untuk menyambut hangatnya sang surya, suaranya
menyapa, memberikan semangat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang nyaman
akan keindahan alam nusantara ini dan segala panorama yang ada,
dimana kaki berpijak di bumi dengan segala isinya.
Sebelum tapak kakiku menyentuh tanah di kota pelajar, dulu dan sampai saat ini
masih terngiang dan melekat sekelumit pesan yang orang tua titipkan kepadaku, “belajarlah
dengan niat belajar”, ucapan ini persis yang telah di sampaikan pula oleh aktifis sejati baginda Rasul “utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”.
Maka sampai detik ini
pun aku mulai hari dengan niat sungguh belajar. Dan sadar
atau pun tidak sadar, saat ini aku adalah mahasiswa, dimana Orientasi seorang Mahasiswa itu,?
Aku sendiri yang akan mencari dan menemukannya, walua
berada dalam keadaan lingkungan bebas, tak lupa juga aku memikul tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang tua, sosial
dan yang paling besar adalah tanggung jawab terhadap Pemilik diri. Karena orang
tua hanyalah tau dan bangga akan anaknya sebagai mahasiswa.
Awal sebelum perkuliahan begitu jauh aktif, terbesit di pikiranku untuk ikut berorganisasi selain kuliah-kost
dan kantin (3K), pada saat itu
sangatlah membosankan, dan waktu itu juga aku berikhtiar memilih satu organisasi extra, untuk menjadi satu ruang
tersendiri bagiku untuk mengembangkan ke-intelektualan yang mungkin aku rasakan
masih sangat dangkal untuk lebih di isi dan di kembangkan, dan ternyata yang
aku rasakan didalamnya tidak hanyalah itu bahkan lebih, karena disitu juga banyak ilmu yang aku dapat
diluar bangku kuliyah,
sebagaimana mahasiswa itu sebagai agent of control, agent of
change, dan agent of social. Disini aku
memulai melukis kegiatanku walau terkadang merasa cape’, letih, lesu dan
lain seabgainya, tapi
inilah jalan yang harus di hadapi dengan niat kesungguhan
maka hari ini adalah milikku.
“ Saatnya kuliah “, terikku lantang
membentur tembok bangunan.
Aku melangkahkan kaki menuju ke kampus, yang dikatakan adalah kampus putih,
kampus rakyat dan kampus perlawanan. Dahulu tak terlukiskan oleh benakku
bagaimana indahnya kampus sebagai rumah sendiri, tempat berteduh kaum-kaum
intelektual, ruang diskusi tanpa dibatasi oleh waktu tapi itu dulu,
hari ini berbeda jauh dari apa yang
aku dengar oleh seneor, namun
masih sangat tergambar dibenak ini dengan menimba cerita-cerita dari angkatan sebelumku
yang masih berdomisili di lingkungan kampus ini.
“Fiuhh, hari yang menantangku, tepat pukul 07.30 harus on time di
dalam kelas karena dosen kali ini tak mengenal
kompromi,hhee”,
“ Eits, dengungku”, memang dosen yang disiplin dan keilmuannya juga memang
di perhitungkan daripada dosen-dosen yang lain, yang hanya sebagai fasilitator
saja dalam kelas, kalau boleh mengandaikan, karena inilah yang terasa dan yang dirasakan.
“Ya, aku ikuti perkuliahan dengan seksama namun akhirnya
bosan juga”.
Jarum jam menunjukkan
Pukul 09.00 aku keluar bareng teman-temanku karena memang
tak terasa satu mata kuliah telah rampung, bergegas aku menuju perpustakaan
untuk mencari bahan diskusi pada sore nanti, diskusi bisa dikatakan adalah
makanan keseharianku, karena ruang dialektika bukanlah hanya di
dalam kelas saja, buktinya aku bersama sahabat-sahabatku se-organisasi
bisa mewarnai ruang kelas dengan beradu argumen tantang
keilmuan, karena ada atau
tiada, dan sadar atau tidak sadar banyak teman-teman yang
berada dalam kelas saat pelajaran dimulai berangkat dari ruang yang kosong, artinya hanya duduk
manis dan menjadi pendengar aktif menerima segala argumentasi tanpa di sadari
kebenarannya, padahal alangkah indahnya kelas bila di isi dengan suara-suara
yang memang itu bisa menjadi bahan pertimbangan dengan cara berdialektika dan
dari berbagai refrensi. Tidak percaya..? Check it out.
“Saat langkah kakiku menuju ke perpus, terdengar suara
dari belakang”.
“Vic....!!!” suara sapaan lembut untuk namaku, vicky. Perlahan aku menoleh
kebelakang dan ternyata yang
manggil itu adalah salah satu
sahabatku. Ya, namanya Riyan.
“what’s up Yan...??? wihh,,,makin cerah aja muka kamu” jawabku dengan sedikit bahasa inggris karena dulu kita
di pertemukan dalam kesukaan bahasa yang sama.
“iya nich, biasa lagi gubed-gubed ada primadona baru di kampus
sambil aku tersenyum manis!!
“Tidak kok vic”, jawabnya, aku hanya mau nitip surat izin buat Bu dosen Kajur tercinta, aku mau jemput adikku di stasiun”, dengan riangnya dia menjalani hari dengan senyuman yang selalu mewarnai teman-taman termasuk aku, dia
pun berlalu setelah memberikan surat izin kepadaku untuk
kuliah nanti pukul 11.00.
Memang Riyan sudah sepeti saudaraku disini, dia yang
mengingatkanku bahwa dipelataran yang jauh dari tanah kelahiran dan keluargaku, yang seharusnya
aku bisa hidup sesuka hati, bebas dan bersenang-senang tapi dia selalu bilang
“apapun yang kamu lakukan, ingatlah orang tuamu, ingatlah siapa dirimu?!” Motivasi tersendiri yang sangat agung
bagiku, dan masih ada
sahabat-sahabat yang lain yang sudah seperti keluargaku sendiri disini
yang juga setia menemani aku dalam kondisi apa pun.
Di perpus aku
dapatkan “aku berpikir, maka aku ada”, dari
tokoh barat Rene Discarte, yang esensinya perlu di olah dalam diri pribadiku, aku tau bahwa aku
mahasiswa tapi tidak semudah ini menurutku menjadi seorang mahasiswa,
dimana-mana mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi dan mendapat
gelar S1 kala selesai, namun dibalik ini semua ada hal yang lebih besar yang
perlu di pertanggung jawabkan terhadap lingkungan sosial dan khususnya diri sendiri, apakah itu.?! “uhftttt....!” inilah sirkulasi kehidupan yang memang penuh akan perjuangan.
Semilir angin disore
hari menjemputku, membawa awan biru ke arah tanpa batas, memberikan satu
arti bahwa alam bumi ini akan terus berputar dan tiada yang tahu kapan akan
berhentinya dunia ini selain Sang Pencipta keindahan itu sendiri yang Maha tau.
Setelah sedikit
menimba ilmu-Nya dengan berdiskusi, kaki ini kembali melangkah tuk sejenak
merebahkan tubuh di kost. Di perjalanan pulang ke kost aku temui teman yang
lagi dalam gundah gulana.
“Kenapa Rin, kamu kok kelihatan murung?” tanyaku kepada Ririn.
“Eh, tidak kok kak, nggak kenapa-kenapa..” jawab dia dengan sedikit kaget di
raut wajahnya.
“Ehmm, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya dan kalau memang ada sesuatu yang
ingin di omongin, bilang ajah Rin” ibahku
melihat sesosok wanita yang berhati sutra.
“Iyaa kak, makasih
yah, aku cuman lagi sedih aja tapi maaf ya kak, sekarang aku masih belum bisa
cerita, mungkin besok-besok aja kalo hati ini udah tenang”, dengan senyum manisnya,
sedikit pintu kejelasan dari dia atas apa yang dirasakan dari wajah yang
anggun menutupi kesedihannya.
“Ya udah, aku ke kost dulu Rin, baik-baik aja yah”, aku pamit ke kost dengan
ikut merasakan kesedihan itu walau pun belum jelas akan sebenarnya kesedihan
itu.
Tanpa terpikir oleh
para pujangga bahwa sesungguhnya hidup tidak hanya di hadapkan kepada individu
saja, artinya hakikat hidup tidak bisa lepas dari Tuhan dan sosial, andaikan
setiap insan itu ingat akan diri sendiri, keluarga, maupun kepada Pemilik hidup
maka alangkah tentram hidup ini dengan warna-warni kehidupan yang di dambakan oleh seluruh manusia yang berinjak di bumi
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar